Mengupas Seputar Hukum Risywah (Gratifikasi)

image
Praktek suap masih menjadi rahasia umum di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Bahkan masalah ini sudah menjadi persoalan yang multi dimensional. Karena sudah merambak pada ranah sosial, moral, hukum, ekonomi, bahkan pendidikan

Dewasa ini, praktek suap masih menjadi rahasia umum di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Bahkan masalah ini sudah menjadi persoalan yang multi dimensional. Karena sudah merambak pada ranah sosial, moral, hukum, ekonomi, bahkan pendidikan.

Orang yang memberi suap biasanya memberikan suap agar keinginannya tercapai. Baik berupa keuntungan tertentu ataupun agar terbebas dari jerat hukuman atau proses hukum. Al Fayyumi rahimahullah, dalam mishbahul munir menjelaskan,

ما يعطيه الشخص الحاكم وغيره ليحكم له أو يحمله على ما يريد

Riaywah (gratifikasi) adalah sebuah pemberian seseorang kepada hakim atau selain hakim, supaya memberikan keputusan yang menguntungkannya atau membuat orang yang diberi menuruti apa yang diinginkan oleh Si Pemberi.

Al-jurjani rahimahullah, dalam at-ta’rifat menerangkan definisi risywah,

الرشوة ما يعطى لإبطال حق أو إحقاق باطل

Risywah adalah, harta yang diberikan untuk tujuan menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.

Maka tidaklah heran, bila pihak yang paling banyak disuap adalah pejabat di lingkungan birokrasi pemerintah. Yang memiliki peranan penting dalam memutuskan perkara. Semisal dalam pemberian izin ataupun pemberian proyek pemerintah.

Suap sering diberikan kepada aparat penegak hukum, seperti polisi, jaksa dan hakim. Demikian pula kepada para pejabat bea cukai, pajak dan pejabat-pejabat yang berhubungan dengan pemberian izin, baik berupa izin perusahaan atau izin untuk mendirikan bangunan dan lain-lain.

Suap juga ditemukan dalam penerimaan pegawai, promosi maupun mutasi.
Bahkan saat ini suap ditengarai sudah merambah ke dunia pendidikan. Baik dalam tahap peneriman mahasiswa/siswa baru, kenaikan kelas, kelulusan, atau untuk mendapatkan nilai tertentu dalam ujian mata pelajaran atau mata kuliah.

Dalam urusan pembuatan administrasi, juga tidak lepas dari suap menyuap. Untuk saat ini, pejabat yang berwenang mengeluarkan surat administrasi ataupun identitas, juga rawan berhubungan dengan suap. Semisal surat keterangan mengenai umur, status perkawinan untuk calon TKI, pembuatan paspor, KTP, SIM dan lain-lain. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa suap sudah mewarnai hampir semua aspek kehidupan dan aktivitas masyarakat.

Hukum Gratifikasi Dalam Tinjauan Islam

Diantara prinsip pokok agama Islam adalah, mendatangkan segala aspek yang bisa memberikan maslahat untuk kehidupan manusia dan mencegah segala kerusakan yang bisa merugikan kehidupan manusia, atau meminimalisirnya. Diantara kerusakan yang bisa merugikan kehidupan manusia adalah risywah (suap menyuap). Oleh karena itu, Islam menetapkan keharaman praktek suap menyuap.

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan akan keharaman perbuatan ini. Diantaranya adalah berikut:

Pertama: firman Allah ta’ala,

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ
”Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan risywah (as-suht).” (QS Al Maidah 42)

وَتَرَىٰ كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. (QS. Al-Maidah : 62)

Makna as-suht dalam ayat di atas adalah risywah. Penafsiran ini diambil dari sabda Nabi shallallahu alaih wasallam,

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ بِالسُّحْتِ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ وَمَا السُّحْتُ ؟ قَالَ الرِّشْوَةُ فِى الْحُكْمِ

“Setiap daging yang tumbuh karena as-suht, maka api nereka lebih utama kepadanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasul, apa as-suht itu?” Beliau menjawab, “Risywah dalam memutuskan perkara.”(HR. Baihaqi)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu juga menjelaskan makna “As-Suht”,

السحت أن تطلب لأخيك الحاجة، فتقضى، فيهدي إليك هدية فتقبلها منه

Suht adalah engkau memenuhi keperluan saudaramu, kemudian dia memberikan hadiah kepadamu, lalu engkau menerima hadiah tersebut.” (Al-Kabair hal. 143)

Konteks ayat ini sedang menerangkan sifat orang Yahudi. Dari penafsiran tentang makna suht dalam ayat fi atas, maka nampaklah bahwa diantara sifat mereka adalah biasa melakukan praktek suap. Islam melarangnya karena perbuatan ini adalah bagian dari tasyabbuh dengan orang-orang Yahudi. Disamping juga risywah sendiri mendatangkan banyak kerugian bagi kehidupan manusia.

Kedua, Allah ta’ala berfirman,

وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

”Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS: Al Baqarah188)

Imam Qurtubi dalam tafsirnya menjelaskan makna ayat ini, “Janganlah kalian merayu para hakim dan menyuap mereka dengan harta kalian. Untuk memenangkan siapa yang iming-iming jumlah uangnya paling banyak.” Ibnu Athiyyah mengatakan, ” Penafsiran ini cukup kuat, karena memang hakim rawan menerima suap menyuap. Kecuali hakim yang diberi taufik untuk menjauhi praktek haram tersebut, dan mereka hanya segelintir.” (Tafsir Al-Qurtubi 2/226)

Realita di lapangan memang demikian, suap sering diberikan kepada aparat penegak hukum. Atau para pejabat di lingkungan birokrasi pemerintahan, yang berperanan penting dalam memutuskan perkara.

Imam Al Baghowi dalam tafsirnya menjelaskan makna ayat ini,

إن الآية شاملة لجميع وجوه الباطل، ومنها الرشوة

” Sesungguhnya ayat ini menyinggung segala bentuk kebatilan, diantaranya adalah risywah (suap menyuap).” (Tafsir Al Baghowi 1/159)

Ketiga, ayat-ayat yang memerintahkan untuk memakan harta yang baik dan halal. Diantaranya adalah firman Allah ta’ala,

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (QS. Al-Maidah: 88)

Keempat, laknat Rasulullah terhadap orang yang menyuap dan yang menerima suap.

Sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

“Rasulullah melaknat penyuap dan yang menerima suap” (HR Tirmidzi dan Ahmad)

Juga riwayat dari sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhu,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.

“Rasulullah melaknat penyuap dan orang yang menerima suap.” (HR Abu Daud, dinilai shahih oleh al-Albani)

Kelima, hadis dari sahabat Abu Humaid As Sa’idi radhiyallahu’anhu,

اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنَ الْأَزْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ الْأُتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي قَالَ فَهَلَّا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ أَوْ بَيْتِ أُمِّهِ فَيَنْظُرَ يُهْدَى لَهُ أَمْ لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْهُ شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ ثُمَّ رَفَعَ بِيَدِهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ إِبْطَيْهِ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ثَلَاثً

Nabi shallallahu’alaihiwasallam mempekerjakan seseorang dari suku Azdy, namanya Ibnu Al Utbiyyah untuk mengurusi zakat. Tatkala ia datang, iapun berkata [kepada Rasulullah],”Ini untuk kalian dan ini hadiah yang diberikan kepadaku .”

Lantas Nabi bersabda, “Kalau engkau benar, mengapa engkau tidak duduk saja di rumah ayah atau ibumu, sampai hadiah itu mendatangimu? Demi Allah, tidaklah salah seorang diantara kalian mengambil sesuatu yang bukan haknya melainkan dia akan menemui Allah dengan membawa beban pada hari Kiamat kelak. Kalau unta atau sapi atau kambing semua bersuara dengan suaranya kemudian beliau mengangkat tangannya sampai kelihatan putih ketiaknya lantas bersabda , “Ya Allah, tidaklah telah aku sampaikan?” Beliau mengatakan demikian sebanyak tiga kali. (HR. Bukhari)

Keenam, hadis Abdullah bin Amr, dari Nabi shallallahu’alaihiwasallam beliau bersabda,

الراشي والمرتشي في النار

“Penyuap dan orang yang menerima suap berada dalam neraka.” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir)

Awas..! Risywah Termasuk Dosa Besar

Imam Adz Dzahabi rahimahullah,
dalam kitabnya Al Kabair menggolongkan risywah sebagai dosa besar. Beliau mengatakan,” Dosa besar ke 32: Memungut suap dalam memutuskan perkara. Kemudian beliau membawakan firman Allah ta’ala,

وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

”Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS: Al Baqarah188)

Janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, maknanya, terang Imam Adz Dzahabi, jangan kalian membujuk para hakim dengan harta kalian dan jangan menyuap mereka, supaya mereka memberi keputusan yang menguntungkan diri kalian dengan mengorbankan hak orang lain, padahal kalian tahu bahwa itu bentuk kezholiman. Kemudian beliau menyampaikan beberapa hadis yang melarang praktek risywah, seperti yang tertera di atas. (Al Kabair hal: 142-143)

Dalil-dalil lain yang telah kami sampaikan di atas, juga cukup mendukung untuk menunjukkan bahwa risywah adalah dosa besar. Karena cukuplah suatu perbuatan dikatakan dosa besar, apabila disertai ancaman laknat atau ada unsur tasyabbuh dengan orang-orang kafir.

Bagaimana dengan Uang Tips Untuk Pegawai Negeri?

Pemberian hadiah atau uang lelah atau angpao atau uang masuk atau biasa disebut uang tips, kepada pegawai negara, adalah masalah samar yang perlu dikaji. Mengingat banyak kalangan masyarakat dan pegawai negara, yang masih menganggapnya sebagai hadiah. Pada asalnya memang Islam menganjurkan untuk saling memberi hadiah. Namun, saat maksud pemberian hadiah untuk kepentingan tertentu, untuk mengambil hati hakim atau aparatur negara, agar mereka memuluskan kepentingannya, maka yang seperti ini bukan lagi disebut hadiah. Akantetapi sudah masuk dalam kategori suap (risywah) yang disinggung dalam sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,

لَعَنَ اللَّهِ الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.

“Allah melaknat penyuap dan orang yang menerima suap.” (Lihat: Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, 31/285)

Barangkali ada yang berdalih “Ini pemberian suka rela”, “ikhlas”, “tanpa pamrih”, “rasa simpatik” dll. Namun, hakikatnya tetaplah gratifikasi atau risywah. Gratifikasi jenis ini memang mudah untuk disamarkan dan dibalut cantik dengan hal-hal yang demikian. Untuk lebih mengena dan terlihat samar, biasanya pemberian semacam ini dilakukan pada hari-hari besar, seperti hari raya idul fitri misalnya. Maka kita kenal istilah parsel lebaran untuk para aparatur negara. Hal-hal seperti ini seharusnya diwaspadai.

Bila memang tujuannya untuk saling memberi hadiah, suapaya mempererat tali persaudaraan, tidak ada tujuan-tujuan untuk kepentingan pribadi di dalamnya, maka tak masalah ini kita katakan hadiah.

Namun apakah demikian?

Mari kita uji, anggap saja posisi Anda sebagai pejabat atau aparatur negara. Apakah para para pemberi uang tips atau hadiah tersebut akan tetap memberikan hadiah saat Anda sudah pensiun; tidak lagi menduduki kursi jabatan? Apakah mereka akan tetap menghubungi Anda, atau mengirim beberapa parsel hadiah atau sejumlah uang sebagai hadiah, saat Anda tidak lagi duduknya kursi jabatan seperti saat ini? Jika memang maksud mereka adalah untuk memberi hadiah?

Jika jawabannya tidak, berarti pemberian tersebut diberikan bukan untuk tujuan mengeratkan persaudaraan. Melainkan sudah merupakan bagian dari suap. Pemberian hadiah memang sering tersamarkan dengan uang suap.

Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

مَنْ شَفَعَ لِأَخِيهِ شَفَاعَةً, فَأَهْدَى لَهُ هَدِيَّةً, فَقَبِلَهَا, فَقَدْ أَتَى بَابًا عَظِيماً مِنْ أَبْوَابِ اَلرِّبَا

“Barangsiapa memberi syafa’at (menjadi perantara untuk suatu kepentingan) kepada saudaranya, kemudian ia diberi hadiah lalu ia menerimanya, maka dia telah membuka satu pintu besar dari pintu-pintu riba.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dari Abu Umamah. Dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah Shohihah no. 3465)

Ibnu Mas’ud saat ditanya tentang makna As-Suht (risywah/suap. lihat: QS. Al-Maidah ayat 62), beliau menjawab,

هو أن تشفع لأخيك شفاعة فيهدي لك هدية فتقبلها

Makna as-Suht (risywah) adalah, engkau memberikan syafa’at atau perantara untuk memuluskan kepentingan saudaramu, lalu ia memberimu hadiah, lalu kamu terima hadiah tersebut. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, 31/285)

Untuk lebih meyakinkan perihal hukum uang tips, mari kita simak hadis berikut. Sebuah hadis dari Abu Hamid As Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengangkat salah seorang dari suku Azad untuk bertugas mengambil zakat dari Bani Sulaim. Orang-orang biasa memanggilnya ‘Ibnul Lutbiah. Ketika datang, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menghitung hasil zakat yang dikumpulkannya.

Ia (Ibnu Lutbiah) berkata,”Ini harta kalian, dan ini hadiah,”

Melihat perilaku pegawai baitul mal yang seperti itu, lantas Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun berkata kepadanya: “Kalau engkau benar, mengapa engkau tidak duduk saja di rumah ayah atau ibumu, sampai hadiah itu mendatangimu?”

Lalu beliau berkhutbah, memanjatkan pujian kepada Allah azza wa jalla , Lalu beliau bersabda : “Aku telah menugaskan seseorang dari kalian sebuah pekerjaan yang Allah azza wa Jalla telah pertanggungjawakan kepadaku. Lalu ia datang dan berkata “yang ini harta kalian, sedangkan yang ini hadiah untukku”. Jika dia benar, mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah atau ibunya, kalau benar hadiah itu mendatanginya. Demi Allah , tidak boleh salah seorang kalian mengambilnya tanpa hak, kecuali dia bertemu dengan Allah dengan membawa unta yang bersuara, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik,”

Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan, hingga nampak ketiak beliau, seraya berkata, “Ya Allah, telah aku sampaikan,” (rawi berkata),” Aku Lihat langsung dengan kedua mataku, dan aku dengar dengan kedua telingaku.” (HR Bukhari, 6979 dan Mustim, 1832)

Hadiah yang diterima oleh Ibu Lutbiah, statusnya sebagai gaji tambahan di luar gaji resmi dari pemerintah. Ia mendapatkan teguran keras dari Nabi karena perbuatannya tersebut. Sama halnya dengan uang tips yang kita kenal saat ini.

Fatwa Ulama Perihal Uang Tips atau yang Semisalnya

Sebuah pertanyaan ditujukan kepada Lajnah Daimah Saudi Arabia (MUInya Saudi) :

Saya bekerja sebagai kepala sekolah yang mengepalai beberapa sekolahan di salah satu distrik di propinsi Madinah al-Munawwarah. Persoalan yang ingin saya tanyakan adalah, penduduk distrik ini adalah kaum badui dari salah satu kabilah arab. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang dermawan. Seringkali mereka mengundang saya untuk makan siang atau makan malam.

Jika saya menolak undangan tersebut, mereka datang ke rumah, membawakan daging sembelihan. Mereka bilang,” Ini untuk makan Anda dan guru-guru lainnya.” Saya khawatir bila pemberian ini termasuk dari risywah (suap). Melihat orang-orang yang mengundangku adalah kalangan wali murid dan karyawan yang menyopir bis sekolah; terselebung maksud untuk mendekatiku, melihat posisiku sebagai kepala sekolah. Sebagian yang lain ada yang tidak hubungan sedikitpun dengan madrasah. Apakah saya harus menolak undangan atau pemberian tersebut? Karena saya merasa tidak nyaman dengan pemberian tersebut.

Jawaban:

Tidak diperbolehkan bagi pegawai, untuk mengambil hadiah atau pemberian dari orang yang memberikan hadiah kepadanya. Semisal kepala sekolah, dia tidak boleh menerima hadiah dari siswa-siswinya atau wali murid. Karena pemberian seperti itu bagian dari ghulul (khianat) yang telah diharamkan. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

“Hadiah untuk pegawai termasuk ghulul (pengkhianatan).”

Karena menerima pemberian tersebut, akan menjadikan seorang tidak adil dan memberikan pelayanan tanpa dasar kebenaran. ” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 23/581-582)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya dengan pertanyaan yang sama. Berikut jawab beliau,

“Seorang guru tidak boleh menerima hadiyah dari siswanya. Karena pemberian itu masuk dalam keumuman hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya,

هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ

“Hadiah untuk pegawai termasuk ghulul (pengkhianatan).”

Bila bertambah kecintaannya kepada murid yang memberi hadiah itu, dikhawatirkan dia akan berpihak sebelah. Oleh karena itu, dia harus menolak pemberian tersebut.” (Liqo’ al-Bab Al-maftuh 16/225)

Beda Antara Risywah dan Hadiah

Perbedaan yang mendasar, terang Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah dalam kitab Ar Ruh, antara suap dan hadiah, terletak pada niat Sang Pemberi. Suatu pemberian tergolong suap (risywah) apabila dimaksudkan untuk washilah membenarkan yang salah atau untuk merealisasikan yang sebenarnya bukan haknya. Inilah praktek suap yang masuk dalam laknat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang disebut dalam hadis.

Adapun pengertian hadiah adalah, pemberian yang diniatkan untuk memupuk rasa kasih sayang, mempererat tali persaudaraan, atau berbuat baik kepada sesama. Tanpa ada tujuan lain selain tujuan-tujuan tersebut. (Lihat: Ar Ruh, hal. 240)

Model Gratifikasi Pada Pegawai Negara

Dalam kitab minhatul ‘allaam, Syaikh Abdulloh bin Sholih Al-Fauzan menjelaskan, bahwa selain dalam dunia administrasi, risywah/gratifikasi juga bisa terjadi dalam hal lowongan kerja, perlombaan, atau dalam kontrak proyek. Yaitu seorang kontraktor menyuap pejabat Jadi berwenang, supaya dia menyerahkan kontrak proyek tersebut kepada kontraktor yang telah menyuapnya. Padahal ada kontraktor lainnya yang lebih kompeten dan layak untuk menggarap proyek tersebut.

Risywah juga bisa terjadi dalam penyidikan kasus. Jadi pihak terdakwa mentuap tim penyidik agar tidak terungkap kejahatannya. Risywah bisa pula terjadi pada dunia pendidikan. Semisal seorang murid menyuap gurunya supaya meluluskannya dalam ujian akhir. Padahal sebenarnya dia belum layak untuk lulus. Atau dengan membocorkan kunci kawaban kepada murid. Sehingga murid bisa meraih rangking yang tinggi, padahal sebenarnya ada orang lain yang lebih berhak. (Minhatul ‘Allaam Syarh Bulugh al Marom, 6/214)

Contoh-contoh lainnya, yang juga dapat dikategorikan sebagai gratifikasi yang sering terjadi pada pegawai negara adalah:

a. Pemberian tiket perjalanan kepada pejabat atau keluarganya untuk keperluan pribadi secara cuma-cuma.

b. Pemberian hadiah atau parsel kepada pejabat pada saat hari raya keagamaan, oleh rekanan atau bawahannya.Hadiah atau sumbangan pada saat perkawinan anak dari pejabat oleh rekanan kantor pejabat tersebut.

c. Pemberian potongan harga khusus bagi pejabat untuk pembelian barang dari rekanan.

d. Pemberian biaya atau ongkos naik haji dari rekanan kepada pejabat.

e. Pemberian hadiah ulang tahun atau pada acara-acara pribadi lainnya dari rekanan.

f. Pemberian hadiah atau souvenir kepada pejabat pada saat kunjungan kerja.

g. Pemberian hadiah atau uang sebagai ucapan terima kasih karena telah dibantu. (Sumber: http://kpk.go.id/gratifikasi/index.php/informasi-gratifikasi/tanya-jawab-gratifikasi)

Tentu saja contoh-contoh ini hanya sebagian kecil dari situasi-situasi terkait gratifikasi, yang seringkali terjadi. Tidak menutup kemungkinan ada kasus-kasus lainnya yang masuk dalam lingkup definisi risywah yang telah kita jelaskan sebelumnya, yang belum kita sebut di sini.

Risywah yang Dibolehkan

Dalam kondisi tertentu, adakalanya risywah diperbolehkan, yaitu pada saat kondisi darurat. Kapan suatu keadaan disebut darurat untuk melakukn risywah? Pada saat seorang tidak bisa lagi mengambil haknya kecuali lewat jalur suap. Namun yang perlu dicatat, diperbolehkan di sini hanya untuk Si Penyuap. Adapun untuk penerima suap, tetap diharamkan.

Dari Ibu Umar radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

إنَّ أَحَدَهُمْ لَيَسْأَلُنِي الْمَسْأَلَةَ فَأُعْطِيهَا إِيَّاهُ فَيَخْرُجُ بِهَا مُتَأَبِّطُهَا ، وَمَا هِيَ لَهُمْ إِلا نَارٌ ، قَالَ عُمَرُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَلِمَ تُعْطِيهِمْ ؟ قَالَ : إِنَّهُمْ يَأْبَوْنَ إِلا أَنْ يَسْأَلُونِي ، وَيَأْبَى اللَّهُ لِي الْبُخْلَ .

Sesungguhnya salah seorang dari mereka akan meminta sesuatu permintaan kepadaku. Lalu aku kabulkan permohonan tersebut. Kemudian mereka keluar dengan mengapitnya di bawah ketiak. Tidak ada perkara yang mereka pinta itu kecuali neraka . “Umar berkata:“ Wahai Rasulullah, mengapa engkau memberinya? ” Beliau bersabda, “Sesungguhnya mereka enggan meminta kecuali kepadaku, sedangkan Allah telah menjauhkanku dari kebakhilan.” (HR. Ahmad, dinilai shohih oleh Syaikh Albani, dalam Shohih at Targhib no. 844)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan padahal harta tersebut haram bagi mereka, hal ini karena beliau terlepas dari celaan sifat bakhil.

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdulhalim al Harroni rahimahullah mengatakan,

فأما إذا أهدى له هدية ليكف ظلمه عنه أو ليعطيه حقه الواجب كانت هذه الهدية حراما على الآخذ , وجاز للدافع أن يدفعها إليه ,

“Adapun bila memberi hadiah (suap) supaya dia (yang diberi suap) tidak berbuat dzolim kepadanya atau supaya dia memberikan hak yang wajib diterimanya, maka dalam kondisi seperti ini, suap diharamkan bagi yang mengambilnya, dan boleh bagi oranh yang memberi.” Kemudian beliau menyebutkan hadis di atas. (Majmu ‘ Fatawa, 31/285)

Dalam Al Kabair, Imam adz-Dzahabi, menjelaskan, laknat dalam hadis, ditujukan kepada penyuap yang berniat untuk mendzolimi hak sesama muslim, atau untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya. Adapun bila ia memberi suap untuk tujuan mendapatkan haknya, atau untuk mencegah kedzoliman orang lain kepadanya, maka yang seperti ini tidak masuk dalam laknat. Untuk hakim, risywah tetal diharamkan atasnya dalam setiap kondisi.  Baik itu untuk mengambil haknya ataupun untuk mencegah kdzoloman orang lain kepadanya.” (al-Kabair hal. 142-143)

Ditulis oleh: Ahmad Anshori
Madinah, 28 Februari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: