Ini Dalilnya Larangan Mengucapkan Selamat Natal

image

Baru-baru ini diberitakan salah seorang tokoh liberal di negeri ini menantang seorang da’i untuk mendatangkan dalil yang menunjukkan larangan mengucapkan selamat natal. Walau sebenarnya sudah jelas dalilnya bak matahari di siang bolong, namun setidaknya dengan catatan sederhana ini, akan semakin menambah kemantapan dan komitmen saudara sekalian, untuk tidak ikut-ikutan dalam perayaan orang-orang kafir.

Pada kesempatan kali ini, setelah memohon taufik kepada Allah ‘azzwajalla, penulis akan memaparkan dalil-dalil berkenaan larangan mengucapkan selamat natal. Sembari memohon petunjukNya untuk penulis, pembaca sekalian dan saudara-saudara kita yang masih ragu dalam permasalahan ini.

Dalil pertama: firman Allah ta’ala,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

Dan orang-orang yang tidak ikut serta dalam Az-Zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (QS. Al-Furqon, 72)

Yang dimaksud Az-Zuur pada ayat di atas adalah hari raya orang-orang musyrik, sebagaimana diterangkan oleh para ulama tafsir seperti Mujahid, Robi’ bin Anas, Ikrimah, Qodhi Abu Ya’la dan Adh-Dhohak.

Kurang tepat bila kata Az-Zuur dalam ayat di atas dimaknai perkataan dusta.

Kemudian dalam gramatika bahasa Arab diterangkan, kata kerja “Yasy-hadu” bila bersandingan dengan huruf ba’, maka maknanya adalah kalimat berita. Seperti kalimat ini,

شهدت بكذا
(Syahidtu bi kadza)

Artinya: “Saya mengabarkan kejadian ini…” atau “Saya memberikan persaksian atas kejadian ini…”

Adapun bila tidak bergandengan dengan huruf ba’ (seperti ayat di atas), maka maknanya adalah keikut sertaaan atau hadir dalam sebuah peristiwa. Semisal kalimat ini,

شهدت كذا
(Syahidtu kadza)

Artinya: “Saya hadir dalam peristiwa tersebut…”

Sebagaimana disebutkan dalam perkataan Umar bun Khotob radhiyallahu’anhu,

الغنيمة لمن شهد المعركة
Al-ghiniimatu liman syahida al-ma’rokah

Artinya: “Ghonimah itu di peruntukkan untuk mereka yang ikut serta dalam peperangan.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam Al-Mushonnaf no. 9689)

Juga perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu’anhuna,

شهدت العيد مع رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم..
Syahidtu al-‘iid ma’a Rasulullah shallallahu’alaihi wa’ala aalihi wasallam.

Artinya: “Saya mengahadiri/merayakan hari raya bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa’ala aalihi wasallam. ” (HR. Bukhari no. 962)

Demikian yang kita jumpai pada ayat di atas; kata kerja yash-hadu tidak bergandengan dengan huruf ba’. Oleh karenanya makna yang tepat potongan ayat ” Wal ladziina laa Yasy-haduunaz Zuur” adalah Orang-orang yang tidak ikut serta atau hadir dalam merayakan hari raya orang kafir.

Berbeda bila bergandengan dengan huruf ba’; ” Wal ladziina laa Yasy-haduuna biz Zuur” maka barulah maknanya: dan orang-orang yang tidak bersaksi dengan persaksian palsu atau dusta.”

Pertanyaan: mengapa hari raya orang kafir dinamai Az-Zuur; yang makna leksikalnya adalah “kebohongan”?

Jawabannya adalah karena masuk dalam cakupan makna Az-Zuur (kebohongan) adalah segala hal yang disamarkan dari hakikat sebenarnya atau dinampakkan baik padahal sejatinya buruk. Boleh jadi karena motivasi syahwat atau karena syubhat. Kemusyrikan misalnya, ia nampak baik di mata para penganutnya karena syubhat. Dan musik nampak indah di mata para pendengarnya karena motivasi syahwat. Adapun hari perayaan orang-orang kafir terkumpul di dalamnya dua hal ini; yaitu motivasi syahwat dan syubhat. Alasan lain adalah karena hari raya orang kafir terasa indah di dunia, padahal finis di akhirat nanti adalah kesengsaraan. Oleh karena itulah hari raya mereka disebut Az-Zuur. (Iqtidho’ Shirot Al-mustaqim, 279-280)

Setelah pemaparan sederhana di atas, jelaslah makna yang dituju oleh ayat; Allah ta’ala memuji hambaNya karena mereka tidak ikut serta dalam Az-Zuur; yang mana makna Az-Zuur adalah hari raya orang kafir. Ini dalil bahwa berlepas diri dari perayaan-perayaan mereka adalah sebab mendapatkan pujian dari Allah ‘azzawajalla; yaitu predikat ‘ibaadurrahman (hamba-hamba Ar-Rahman).

Tentu tidak syak lagi, termasuk bentuk keikut sertaan dalam perayaan hari raya orang kafir adalah memberikan ucapan selamat kepada mereka. Karena secara tidak langsung dengan ucapan selamat tersebut, ia ikut serta dalam memeriahkan hari raya orang kafir.Dan telah dijelaskan pada ayat di atas, bahwa perbuatan semacam ini adalah sebab mendapat celaan Allah ‘azzawajalla.

Dalil kedua: hadis Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan,
“Setibanya Nabi di Madinah, orang-orang Madinah kala itu memiliki dua hari yang mereka bersenang-senang (merayakan) dua hari tersebut. Lantas Nabi bertanya,

ما هذان اليومان ؟
Dua hari apa ini?”

Kami bersenang-senang pada dua hari ini semasa jahiliyah dulu ya Rasulullah, ” Jawab penduduk Madinah.

إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما: يوم الأضحى ويوم الفطر

“Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari yang lebih baik dari dua hari tersebut, yaitu hari raya idul adha dan idul fitri.” Tangkas Nabi shallallahu’alaihiwasallam. (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Nasa’i)

Sisi pendalilan dari hadis di atas adalah, sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari yang lebih baik dari dua hari tersebut..” menunjukkan ketidak setujuan beliau pada dua hari perayaan orang-orang jahiliyah yang dirayakan oleh sebagian penduduk Madinah tersebut.

Logikanya, sesuatu yang telah digantikan, ia menjadi tidak berlaku karena telah digantikan oleh hal yang lain. Tidak mungkin berlaku dua hukum pada hal yang telah diganti tersebut; antara tetap berlaku namun tergantikan; kontradiksi dan tak masuk akal.

Kemudian datang orang-orang di zaman ini yang menfatwakan bolehnya mengucapkan selamat natal. Sadar atau tidak, fatwa tersebut secara tidak langsung hendak membatalkan pernyataan Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam hadis di atas -nas alullahas salaamah-. Yang mana beliau mengingkari keikutsertaan orang muslim dalam perayaan orang kafir.

Dalil Ketiga: Hadis Tsabit bin Dhohak radhiyallahu’anhu, beliau mengisahkan,
Seorang datang menemui Nabi shallallahu’alaihiwasallam serambi berkata: “Wahai Rasulullah, saya pernah bernadzar untuk menyembelih onta di Babwanah (nama sebuah tempat di dekat kota Makkah).”

هل كان فيها وثن من أوثان الجاهلية يُعبد ؟

“Apakah di sana ada arca yang disembah oleh orang-orang jahiliyah? “ tanya Rasulullah kepada para sahabatnya.

Tidak wahai Rasulullah…” sahut para sahabat.

Nabi bertanya kembali,

هل كان فيها عيد من أعيادهم ؟

“Apakah di tempat itu pernah dilaksanakan perayaan hari rayanya orang-orang jahiliyah?

“Tidak wahai Rasulullah..” sahut para sahabat.

Nabi lantas bersabda,

فأوف بنذرك ؛ فإنه لاوفاء بنذر في معصية الله ولافيما لايملك ابن آدم

“Kalau begitu, silahkan tunaikan nadzarmu. Karena sesungguhnya tidak boleh menunaikan nadzar yang mengandung maksiat kepada Allah dan dalam hal yang di luar batas kemampuan manusia.” (HR. Abu Dawud, hadis yang semakna juga terdapat dalam shahihain)

Sisi pendalilan hadis di atas: hadis ini menunjukkan bahwa, menyembelih sembelihan di tempat dilaksanakan perayaan hari raya orang-orang musyrik, adalah tergolong perbuatan maksiat kepada Allah ta’ala. Karena di akhir sabdanya, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menyatakan, “Kalau begitu, silahkan tunaikan nadzarmu. Karena sesungguhnya tidak boleh menunaikan nadzar yang mengandung maksiat kepada Allah…” (1)

Bila sekedar menyembelih di tempat yang pernah dilaksanakan hari raya orang kafir saja sudah tergolong maksiat, apalagi sampai ikutan memeriahkan atau memberikan ucapan selamat atas hari rayanya orang-orang kafir?! Tentu lebih terlarang lagi.

Usai membawakan hadis di atas, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan,

وهذا نهي شديد عن أن يُفعل شيء من أعياد الجاهلية على أي وجه كان

“Ini menunjukkan larangan yang tegas untuk berkontribusi dalam perayaan hari raya orang kafir dalam bentuk apapun.” (Iqtidho’ Shirot Al-mustaqim, 299)

Dalil Keempat: Hadis Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu’anha. Disebutkan bahwa Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

إن لكل قوم عيداً وإن عيدنا هذا اليوم – ليوم الأضحى-

“Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya. Dan hari raya kita adalah hari ini (yaitu hari idul adha).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa masing-masing kaum memiliki hari raya sendiri. Sejalan dengan firman Allah ta’ala,

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Untuk tiap umat diantara kamu, Kami berikan syari’at dan jalan masing-masing.” (QS. Al-Maidah 48)

Untuk kaum muslimin sendiri telah ditetapkan hari raya untuk mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,
“…hari raya kita adalah hari ini (yaitu hari idul adha).” Dan hari raya idul fitri sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis lain.

Dalil kelima: Hadis Ummu Salamah radhiyallahu’anha, dia menceritakan,”Nabi shallallahu’alaihiwasallam lebih sering puasa di hari sabtu dan ahad, dari pada hari-hari yang lain. Beliau bersabda,

إنهما يوما عيد للمشركين فأنا أحب أن أخالفهم

Dua hari ini adalah hari rayanya orang-orang musrikin. Saya senang menyelisihi mereka.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)

Hadis ini memberikan dua faidah kepada kepada kita:

Pertama: Nabi shallallahu’alaihiwasallam menyukai perbuatan yang menyelisi orang-orang yahudi dan nasrani. Terlebih lagi pada hal-hal yang menjadi syiar mereka; sperti hari raya mereka misalnya. Dari sini kita bertanya; apakah seorang muslim yang ikut memeriahkan hari raya mereka, atau memberikan ucapan selamat atas hari raya mereka, bisa disebut peneladan jejak kehidupan Nabi shallallahu’alaihiwasallam?! Atau justru ia menyelisihi prinsip Nabi shallallahu’alaihiwasallam?!

Maka barangsiapa yang benar-benar meneladani Nabi shallallahu’alaihiwasallam, ia akan berlepas diri dari hari raya orang-orang kafir dan berusaha menyelisihi syiar-syiar mereka. Bukan malah ikut serta memeriahkan atau mengucapkan selamat kepada mereka. Memang benar Islam mengajarkan toleransi kepada kita, namun toleransi itu ada batasannya. Bukan menyinggung hal-hal yang prinsip seperti ini.

Kedua: dua hari tersebut adalah hari besarnya orang yahudi dan nasrani. Kemudian dalam sabda nya Nabi menyebut mereka dengan sebutan “musrikin”. Ini menunjukkan bahwa julukan musrikin memang pantas disematkan kepada mereka. Sebagaimana juga diterangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 72 dan surat At-Taubah ayat 31.

Dalil Keenam: Perkataan Umar bin Khottob radhiyallahu’anhu yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi,

لا تدخلوا على المشركين في كنائسهم يوم عيدهم فإن السخطة تنزل عليهم

“Janganlah kalian masuk ke gereja-gereja orang-orang musrikin, di saat mereka berhari raya. Karena kemurkaan Allah pada saat itu turun atas mereka.”

Amirul Mukminin Umar bin Khotob radhiyallahu’anhu melarang kita untuk ikut campur dalam perayaan-perayaan mereka. Lalu datang orang-orang sepeninggal beliau; di zaman penuh fitnah ini, yang menyerukan bolehnya mengucapkan selamat natal kepada orang-orang nasrani. Apakah mereka lebih paham tentang agama ini daripada Umar radhiyallahu’anhu?! Ataukah mereka lebih paham tentang toleransi daripada sahabat yang dijuluki Rasullah sebagai Al-Faruq ini?! Yang setsn saja tak berani menapaki jalan yang dilaluinya?!

Dalil Ketujuh: Masih seputar perkataan Umar radhiyallahu’anhu. Di kesempatan yang lain beliau mengatakan,

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم

“Jauhilah hari raya orang-orang kafir..”

Bila sekedar menemui mereka saat mereka sedang berhari raya saja terlarang, terlebih bila mengucapkan selamat atas hari raya mereka, yang terkandung dalam ucapan tersebut bentuj persetujuan atas penyembahan mereka kepada patung-patung atau dewa-dewa mereka, yang mana saat hari raya itulah mereka menampakkan syiar terbesar mereka dalam menyembah tuhan-tuhan selain Allah azzawajalla. Sungguh ucapan semacam ini tidak akan keluar dari mulut seorang muslim yang bertauhid.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,” Hari raya adalah syiar yang paling besar yang menampakkan perbedaan satu syariat dengan syariat lain. Ia adalah syiar yang paling besar daripada syiar-syiar lainnya. Maka barangsiapa yang memberi persetujuan terhadap hari raya orang kafir, itu artinya ia telah menyetujui syiar yang paling istimewa dan syiar paling nampak dalam agama mereka. Tidak diragukan lagi, persetujuan semacam ini bisa menjerumuskan kepada kekufuran secara tidak langsung.”
_____

Footnote:
(1) Maksud menyembelih sembelihan di tempat yang pernah dirayakannya perayaan orang-orang kafir. Sebagai bentuk syad lidz dzarii’ah (red. menutup peluang) dihidupkannya kembali tempat tersebut untuk melaksanakan hari raya mereka yang sudah mulai ditinggalkan. Jangan sampai karena ada seorang muslim yang menyembelih sembelihan di tempat tersebut, kemudian orang menyangka bahwa tempat tersebut layak untuk dihidupkan dengan perayaan-perayaam mereka dahulu. Demikian sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Iqtidho ‘ Shirot Al-mustaqim.

*Referensi: Kitab Iqtidho’ Shirot Al-mustaqim li mukholafati Ash-Haabu Al-Jahiim, hal: 287-310. Cetakan Dar Al-Fadhilah, tahun 1424 H. Tahqiq: Nashir bin Abdulkarim Al-‘aqel.

Madinah An-Nabawiyyah, 22 Shofar1436H
Akhukum fillah: Ahmad Anshori

Iklan

Fatwa Ulama: Hukum Menyandingkan Nama Allah dan Rasulullah

image

Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad
Soal:

Apa hukumnya menyandingkan lafal Allah dan Muhammad -shallallahu’alaihiwasallam-?

Jawab:

Beliau menjelaskan bahwa hal tersebut perlu dirinci. Bila menyandingkan dalam penyebutan, tentu itu tidak mengapa. Karena Allah subhanahu wata’ala yang menciptakan seluruh makhluk, sedang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah pembawa risalahNya, yang menjadi petunjuk serta rahmat bagi seluruh makhluk.

Sebagaimana kita dapati dalam pengucapan lafal syahadatain; “Asyhadu anlaa ilaa haillallah wa asy hadu anna muhammadar rasuulullah..
(Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak di ibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)

Adapun bila menyandingkan, dengan menempelkan lafal Allah dan Muhammad di dinding dengan menyamakan posisinya (seperti yang kita jumpai di masjid-masjid di tanah air, red.) maka ini terlarang, ini perkara baru dalam agama. Seyogyanya ditinggalkan.

04 Dzulhijah 1435 H

[didengar langsung oleh Ust. Ahmad Anshari di majelis beliau] ___
Penyusun: Ust. Ahmad Anshari
Artikel Muslim.Or.Id

Sejarah Penetapan Penanggalan Tahun Hijriyah

image

Saat ini kita berada di penghujung bulan Dzulhijah; bulan ke 12 dari kalender hijriyah. Beberapa hari lagi kita akan memasuki tahun baru hijriyah. Moment yang sangat pas untuk mempelajari kembali sejarah penetapan penanggalan hijriyah.

Kalender hijriyah adalah penanggalan rabani yang menjadi acuan dalam hukum-hukum Islam. Seperti haji, puasa, haul zakat, ‘idah thalaq dan lain sebagainya. Dengan menjadikan hilal sebagai acuan awal bulan.

Sebagaimana disinggung dalam firman Allah ta’ala,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ
َ
“Orang-orang bertanya kepadamu tentang hilal. Wahai Muhammad katakanlah: “Hilal itu adalah tanda waktu untuk kepentingan manusia dan badi haji.”(QS. Al-Baqarah: 189)

Sebelum penanggalan hijriyah ditetapkan, masyarakat Arab dahulu menjadikan peristiwa-peristiwa besar sebagai acuan tahun. Tahun renovasi Ka’bah misalnya, karena pada tahun tersebut, Ka’bah direnovasi ulang akibat banjir. Tahun fijar, karena saat itu terjadi perang fijar. Tahun fiil (gajah), karena saat itu terjadi penyerbuan Ka’bah oleh pasukan bergajah. Oleh karena itu kita mengenal tahun kelahiran Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dengan istilah tahun fiil/tahun gajah.

Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian seorang tokoh sebagai patokan, misal 7 tahun sepeninggal Ka’ab bin Luai.” Untuk acuan bulan, mereka menggunakan sistem bulan qomariyah (penetapan awal bulan berdasarkan fase-fase bulan)

Sistem penanggalan seperti ini berlanjut sampai ke masa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan khalifah Abu Bakr Ash-Sidiq radhiyallahu’anhu. Barulah di masa khalifah Umar bin Khatab radhiyallahu’anhu, ditetapkan kalender hijriyah yang menjadi pedoman penanggalan bagi kaum muslimin.

Latar Belakang Penanggalan

Berawal dari surat-surat tak bertanggal, yang diterima Abu Musa Al-Asy-‘Ari radhiyahullahu’anhu; sebagai gubernur Basrah kala itu, dari khalifah Umar bin Khatab. Abu Musa mengeluhkan surat-surat tersebut kepada Sang Khalifah melalui sepucuk surat,

إنه يأتينا منك كتب ليس لها تاريخ

“Telah sampai kepada kami surat-surat dari Anda, tanpa tanggal.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

إنَّه يأتينا مِن أمير المؤمنين كُتبٌ، فلا نَدري على أيٍّ نعمَل، وقد قرأْنا كتابًا محلُّه شعبان، فلا ندري أهو الذي نحن فيه أم الماضي

“Telah sampai kepada kami surat-surat dari Amirul Mukminin, namun kami tidak tau apa yang harus kami perbuat terhadap surat-surat itu. Kami telah membaca salah satu surat yang dikirim di bulan Sya’ban. Kami tidak tahu apakah Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”

Karena kejadian inilah kemudian Umar bin Khatab mengajak para sahabat untuk bermusyawarah; menentukan kalender yang nantinya menjadi acuan penanggalan bagi kaum muslimin.

Penetapan Patokan Tahun

Dalam musyawarah Khalifah Umar bin Khatab dan para sahabat, muncul beberapa usulan mengenai patokan awal tahun.

Ada yang mengusulkan penanggalan dimulai dari tahun diutus Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Sebagian lagi mengusulkan agar penanggalan dibuat sesuai dengan kalender Romawi, yang mana mereka memulai hitungan penanggalan dari masa raja Iskandar (Alexander). Yang lain mengusulkan, dimulai dari tahun hijrahnya Nabi shallallahu’alaihiwasalam ke kota Madinah. Usulan ini disampaikan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu.

Hati Umar bin Khatab radhiyallahu’anhu ternyata condong kepada usulan ke dua ini,

الهجرة فرقت بين الحق والباطل فأرخوا بها

” Peristiwa Hijrah menjadi pemisah antara yang benar dan yang batil. Jadikanlah ia sebagai patokan penanggalan.” Kata Umar bin Khatab radhiyallahu’anhu mengutarakan alasan.

Akhirnya para sahabatpun sepakat untuk menjadikan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun. Landasan mereka adalah firman Allah ta’ala,

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيه
َ
Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. (QS. At-Taubah:108)

Para sahabat memahami makna “sejak hari pertama” dalam ayat, adalah hari pertama kedatangan hijrahnya Nabi. Sehingga moment tersebut pantas dijadikan acuan awal tahun kalender hijriyah.

Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahillah dalam Fathul Bari menyatakan,

وأفاد السهيلي أن الصحابة أخذوا التاريخ بالهجرة من قوله تعالى : لمسجد أسس على التقوى من أول يوم لأنه من المعلوم أنه ليس أول الأيام مطلقا ، فتعين أنه أضيف إلى شيء مضمر وهو أول الزمن الذي عز فيه الإسلام ، وعبد فيه النبي – صلى الله عليه وسلم – ربه آمنا ، وابتدأ بناء المسجد ، فوافق رأي الصحابة ابتداء التاريخ من ذلك اليوم ، وفهمنا من فعلهم أن قوله تعالى من أول يوم أنه أول أيام التاريخ الإسلامي ، كذا قال ، والمتبادر أن معنى قوله : من أول يوم أي دخل فيه النبي – صلى الله عليه وسلم – وأصحابه المدينة والله أعلم .

” Pelajaran dari As-Suhaili: para sahabat sepakat menjadikan peristiwa hijrah sebagai patokan penanggalan, karena merujuk kepada firman Allah ta’ala,

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيه
َ
“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya.” (QS. At-Taubah: 108)

Sudah suatu hal yang maklum; maksud hari pertama (dalam ayat ini) bukan berarti tak menunjuk pada hari tertentu. Nampak jelas ia dinisbatkan pada sesuatu yang tidak tersebut dalam ayat. Yaitu hari pertama kemuliaan islam. Hari pertama Nabi shallallahu’alaihiwasallam bisa menyembah Rabnya dengan rasa aman. Hari pertama dibangunnya masjid (red. masjid pertama dalam peradaban Islam, yaitu masjid Quba). Karena alasan inilah, para sahabat sepakat untuk menjadikan hari tersebut sebagai patokan penanggalan.

Dari keputusan para sahabat tersebut, kita bisa memahami, maksud “sejak hari pertama” (dalam ayat) adalah, hari pertama dimulainya penanggalan umat Islam. Demikian kata beliau. Dan telah diketahui bahwa makna firman Allah ta’ala: min awwali yaumin (sejak hari pertama) adalah, hari pertama masuknya Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan para sahabatnya ke kota Madinah.
. Allahua’lam. ” (Fathul Bari, 7/335)

Sebenarnya ada opsi-opsi lain mengenai acuan tahun, yaitu tahun kelahiran atau wafatnya Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Namun mengapa dua opsi ini tidak dipilih? Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan alasannya,

لأن المولد والمبعث لا يخلو واحد منهما من النزاع في تعيين السنة ، وأما وقت الوفاة فأعرضوا عنه لما توقع بذكره من الأسف عليه ، فانحصر في الهجرة ،

“Karena tahun kelahiran dan tahun diutusnya beliau menjadi Nabi, belum diketahui secara pasti. Adapun tahun wafat beliau, para sahabat tidak memilihnya karena akan menyebabkan kesedihan manakala teringat tahun itu. Oleh karena itu ditetapkan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun.” (Fathul Bari, 7/335)

Alasan lain mengapa tidak menjadikan tahun kelahiran Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagai acuan; karena dalam hal tersebut terdapat unsur menyerupai kalender Nashrani. Yang mana mereka menjadikan tahun kelahiran Nabi Isa sebagai acuan.

Dan tidak menjadikan tahun wafatnya Nabi shallallahu’alaihiwasallam
sebagai acuan, karena dalam hal tersebut terdapat unsur tasyabuh dengan orang Persia (majusi). Mereka menjadikan tahun kematian raja mereka sebagai acuan penanggalan.

Penentuan Bulan

Perbincangan berlanjut seputar penentuan awal bulan kalender hijriyah. Sebagian sahabat mengusulkan bulan Ramadhan. Sahabat Umar bin Khatab dan Ustman bin Affan mengusulkan bulan Muharram.

بل بالمحرم فإنه منصرف الناس من حجهم

“Sebaiknya dimulai bulan Muharam. Karena pada bulan itu orang-orang usai melakukan ibadah haji.” Kata Umar bin Khatab radhiyallahu’anhu.

Akhirnya para sahabatpun sepakat.
Alasan lain dipilihnya bulan muharam sebagai awal bulan diutarakan oleh Ibnu Hajar rahimahullah,

لأن ابتداء العزم على الهجرة كان في المحرم ؛ إذ البيعة وقعت في أثناء ذي الحجة وهي مقدمة الهجرة ، فكان أول هلال استهل بعد البيعة والعزم على الهجرة هلال المحرم فناسب أن يجعل مبتدأ ، وهذا أقوى ما وقفت عليه من مناسبة الابتداء بالمحرم

“Karena tekad untuk melakukan hijrah terjadi pada bulan muharam. Dimana baiat terjadi dipertengahan bulan Dzulhijah (bulan sebelum muharom)
Dari peristiwa baiat itulah awal mula hijrah. Bisa dikatakan hilal pertama setelah peristiwa bai’at adalah hilal bulan muharam, serta tekad untuk berhijrah juga terjadi pada hilal bulan muharam (red. awal bulan muharam). Karena inilah muharam layak dijadikan awal bulan. Ini alasan paling kuat mengapa dipilih bulan muharam.” (Fathul Bari, 7/335)

Dari musyarah tersebut, ditentukanlah sistem penanggalan untuk kaum muslimin, yang berlaku hingga hari ini. Dengan menjadikan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun dan bulan muharam sebagai awal bulan. Oleh karena itu kalender ini populer dengan istilah kalender hijriyah.

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah penanggalan hijriyah di atas:

1. Kalender hijriyah ditetapkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para sahabat. Dan kita tahu bahwa ijma’ merupakan dalil qot’i yang diakui dalam Islam.

2. Sistem penanggalan yang dipakai oleh para sahabat adalah bulan qomariyah. Hal ini diketahui dari surat Umar bin Khatab yang ditulis untuk Abu Musa Al-Asy-‘ariy; di situ tertulis bulan sya’ban, hanya saja tidak diketahui tahunnya.

3. Para sahabat menjadikan kalender hijriyah sebagai acuan penanggalan dalam segala urusan kehidupan mereka; baik urusan ibadah maupun dunia. Sehingga memisahkan penggunaan kalender hijriyah, antara urusan ibadah dan urusan dunia, adalah tindakan yang menyelisihi konsesus para sahabat. Seyogyanya bagi seorang muslim, menjadikan kalender hijriyah sebagai acuan penanggalan dalam kesehariannya.

4. Kalender hijriyah merupakan syi’ar Islam, yang menbedakannya dengan agama-agama lainnya.
Demikian yang bisa kami sampaikan. Allahu ta’ala a’lam bis showab.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, wa’ala aalihi wa shahbihi wa sallam.

(Simak pembahasan masalah ini di kitab Fathul Baari 7/335-336, Bidayah wan Nihayah 3/206, Al-i’laam bi At-tauwbikh li man Dzammu At-taarikh, karya Asy-Syakhowi hal. 78)
_____

Diselesaikan di wihdah 8, Kampus Universitas Islam Madinah, Kota Nabi, 23 Dzulhijah 1435

Penulis: Ahmad Anshori
Artikel Muslim.Or.Id

Adab Ketika Mendengar Khutbah Jumat

image

Bagaimanakah adab ketika mendengar khutbah Jumat?

Saat khutbah jumat sedang berlangsung, seorang dilarang menyibukkan diri dengan hal-hal yang bisa memalingkan konsentrasinya dari menyimak khutbah. Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ: (أَنْصِتْ) وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ
“Jika kamu berkata kepada temanmu, “Diamlah” sementara imam sedang berkhutbah di hari jumat, sungguh ia telah berbuat sia-sia.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Seruan dia kepada kawannya supaya diam di saat imam sedang khutbah merupakan bentuk amar ma’ruf nahi munkar. Namun karena dilakukan pada saat yang tidak tepat, perbuatan tersebut menjadi tidak berpahala. Bahkan justru berdampak buruk bagi pelakunya. Karena jelas di akhir hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” فقد لغوت”, artinya: “sungguh kamu telah berbuat sia-sia.” Terlebih pembicaraan yang hukum asalnya mubah. Tentu lebih terlarang lagi.
Maksud sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam: فقد لغوت
(-faqod laghouta- artinya: “..sungguh ia telah berbuat sia-sia.”) dalam hadis di atas adalah, ia terluputkan dari pahala shalat jumat.

Dalam riwayat Tirmidzi terdapat kalimat tambahan:

ومن لغا فلا جمعة له

“…barangsiapa berbuat sia-sia, maka tidak ada pahala shalat jumat untuknya.” (Imam Tirmidzi berkata: hadis ini hasan shahih. Para ulama hadis lainnya menilai hadis ini dha’if, hanya saja maknanya benar).

Dalam riwayat lain disebutkan,

ومن لغا وتخطَّى رقاب الناس، كانت له ظهرًا

“Dan barangsiapa yang berbuat sia-sia dan melangkahi pundak-pundak manusia, maka Jum’atannya itu hanya bernilai salat Zhuhur.” (HR. Abu Dawud, no. 347. Dihasankan oleh Al-albani dalam Shahih Abi Dawud)

Hal ini bukan berarti shalat jumatnya batal. Shalatnya tetap sah, hanya saja ia terluput dari pahala shalat jumat. Dan cukuplah ini kerugian yang besar bagi seorang mukmin.

Ada pengecualian di sini, yaitu dibolehkan bagi khatib untuk berinteraksi dengan jama’ah, bila memang diperlukan. Begitu pula sebaliknya; seorang jamaah boleh berinteraksi dengan Sang Khatib. Namun ini sebatas kebutuhan saja. Artinya jangan sampai menyebabkan konsentrasi jamaah yang lain terganggu.

Seperti ini pernah terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau sedang khutbah, salah seorang sahabat masuk ke masjid kemudian langsung duduk. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dia supaya berdiri untuk shalat tahiyyatul masjid. (Lihat Shahih Al-bukhari, hadis no. 931)

Dalam kesempatan yang lain, ketika Madinah sedang ditimpa paceklik, salah seorang sahabat meminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya mendoakan turun hujan. Saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang khutbah jumat. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan beliau, sejajar dengan wajah beliau serambi berdoa,

اللَّهُمَّ اسْقِنَا

(Allahummas Qinaa) “Ya Alllah, turunkan hujan kepada kami.” Hujan pun turun ketika itu juga sampai hari jumat yang berikutnya. (Lihat Sunan An-Nasa’i, hadis no. 1515)

Diperbolehkan pula bagi makmum untuk melakukan hal-hal yang ada kaitannya dengan khutbah. Seperti mengamini doa khatib dan bershalalawat kepada Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Adapun hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan khutbah: seperti mencatat faidah-faidah khutbah, menjawab salam (red. menjawabnya cukup dengan isyarat), men-tasymit orang yang bersin (mengucapkan yarhamukallah saat saudaranya mengucapkan alhamdulillah ketika bersin, ed) dll, maka tidak diperbolehkan.

Ada hadis lain yang menjelaskan tentang adab ketika khatib sedang khutbah Jumat, berikut ini hadisnya:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمْعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ, غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمْعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ, وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَى

“Barangsiapa yang berwudhu lalu memperbagus wudhunya kemudian dia mendatangi shalat Jum’at, dia mendengarkan khutbah dan diam, maka akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at ini dengan Jum’at yang akan datang, ditambah tiga hari. Dan barangsiapa yang bermain kerikil, sungguh ia telah berbuat sia-sia.” (HR. Muslim)

Hadis kedua ini menjelaskan tentang larangan yang berkaitan dengan perbuatan. Adapun hadits pertama tadi menjelaskan tentang larangan yang berkaitan dengan ucapan.
Kesimpulannya adalah, saat khatib sedang berkhutbah, seorang makmum tidak boleh menyibukkan diri dengan hal-hal yang bisa membuyarkan kosentrasinya dari mendengarkan khutbah Jumat. Baik hal tersebut berkaitan dengan ucapan maupun perbuatan.

Bagaimana dengan orang yang bermain handphone ketika khutbah jumat?

Jawabannya adalah bermain handphone di saat khatib sedang berkhutbah juga tidak boleh. Hukumnya sama dengan orang yang bermain kerikil yang disinggung dalam hadis di atas. Jadi seorang yang sibuk bermain handphone ketika khatib sedang khutbah, ia juga terluputkan dari kesempurnaan pahala shalat jum’at.

Bagaimana bila seorang ingin merekam khutbah jum’at dengan handphone-nya?

Jawabannya adalah tetap terlarang bila dilakukan saat khatib sedang berkhutbah. Bila ia hendak merekam khutbah, sebaiknya dipersiapkan sebelum khatib memulai khutbah. Seperti saat khatib sedang naik mimbar atau sejak sebelumnya. Yang terpenting selama khatib belum memulai khotbah, maka dibolehkan bagi Anda untuk mengobrol atau mempersiapkan handphone Anda untuk merekam dst. Karena konteks hadisnya berbunyi: “Jika kamu berkata kepada temanmu, “Diamlah” sementara imam sedang berkhutbah di hari jumat, sungguh ia telah berbuat sia-sia.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Artinya bila imam tidak sedang berkhutbah; seperti saat sedang naik mimbar atau saat duduk antara dua khutbah, maka dibolehkan bagi Anda apa yang dilarang dalam hadiss tersebut.

(Tulisan ini adalah rangkuman faidah dari kajian Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad hafizhahullah, saat membahas Kitab Al-Jum’ah dari Shahih Muslim, di Masjid Nabawi Asy-Syarif)

___

Madinah An-Nabawiyyah, 11 Muharram 1436
Penulis: Ahmad Anshori
Editor: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel  Muslim.Or.Id

Fikih Bismillah Sebelum Makan

adab_makan-300x169

Bagaimanakah hukum membaca bismillah sebelum makan?

Hadis yang menjadi landasan seputar masalah ini adalah, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Umar bin Abu Salamah, yang kala itu beliau masih beliau,

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ » . فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

Wahai Anakku, bacalah “bismilillah”, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu. (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Hukum Membaca Bismillah Sebelum Makan

Sebagian orang berpandangan sunah. Namun lebih tepat bila kita katakan, bahwa hukum membaca bismillah sebelum makan adalah wajib.

Meski sejatinya ada silang pendapat di kalangan ulama mengenai masalah ini. Namun pendapat yang lebih rajih -Allahu a’lam- adalah pendapat yang menyatakan wajib. Dalilnya adalah hadis Umar bin Abi Salamah di atas. Di dalamnya terdapat indikasi kuat yang mendulung pendapat tersebut. Diantaranya adalah:

Perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam untuk membaca bismillah sebelum makan, kepada Umar bin Abi Salamah, beliau sampaikan saat Umar bin Abi Salamah masih kecil. Bila anak kecil saja sudah diperintahkan untuk membaca bismillah sebelum makan, maka untuk orang dewasa tentu lebih ditekankan lagi.

Ada kaidah yang menyatakan,

الأصل في الأمر الوجوب

Pada dasarnya, perintah itu menunjukkan hukum wajib.”

Jelas sekali dalam sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam di atas terkandung perintah. Dan hukum asal perintah adalah memberi faidah kewajiban. Kecuali bila ada indikasi lain yang mengalihkan perintah tersebut dari hukum wajib kepada anjuran. Namun dalam hal ini tidak didapati indikasi yang mengalihkan perintah tersebut dari hukum wajib. Ini menunjukkan bahwa membaca bismillah sebelum makan adalah kewajiban.

Alasan lain yang menguatkan keterangan ini adalah, perintah untuk membaca bismillah dalam hadis di atas, satu paket dengan perintah makan menggunakan tangan kanan. Tentu tak diragukan lagi, bahwa makan dengan tangan kanan adalah sebuah kewajiban. Karena dalam hadis lain disebutkan, bahwa setan makan dengan tangan kiri.

Tidak mungkin satu paket perintah menghasilkan hukum yang berbeda. Yang satu wajib dan yang satu sunah. Ini dalil bahwa hukum membaca bismillah sebelum makan adalah wajib, sebagaimana wajibnya hukum makan dengan tangan kanan. (lihat: Fathul Bari 9/522)

Di antara ulama yang memegang pendapat ini adalah Ibnu Muflih, Ibnu Hazm, Ibnu Abi Musa. (lihat: Al-Adab Asy-Syar’iyah 3/178, Al-Irsyad hal. 538, Al-Muhalla 7/424)

Ada pula hadis lain yang secara tegas menunjukkan wajibnya membaca basmalah sebelum makan. Hadis tersebut dari Ibunda Aisyah radhiyallahu’anha. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Apabila salah seseorang dari kalian hendak makan, maka ucapkanlah bismillah. Apabila lupa maka ucapkanlah, “Bismillahi Awwalahu wa Aakhirohu” (Dengan menyebut nama Allah di awal dan di akhir).” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

Bila hukum membaca basmalah hanya sebatas anjuran, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan memberi penekanan seperti ini. Sampai ketika seorang lupa pun, beliau tetap perintahkan untuk membaca bismillah, seperti yang tertera pada hadis di atas.

Bismillah atau Bismillahirrahmaanirrahim?

Zahir dari hadis ‘Aisyah di atas menunjukkan, bahwa yang diperintahkan hanyalah sebatas “bismillah” saja, tanpa tambahan “bismillahirrahmaanirrahim“.

Ada ulama yang menjelaskan, bahwa yang lebih afdhal adalah membaca lengkap bismillahirrahmaanirrahim. Seperti Imam Nawawi, Ibnu Muflih dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -semoga Allah merahmati mereka semua-.

Akan tetapi pendapat mereka tersebut disanggah oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah. Beliau menyatakan bahwa yang lebih tepat bacaan basmalah sebelum makan cukup “bismillah ” saja. Karena seperti inilah yang tertera dalam hadis. (Lihat: Fathul Bari 9/221, Al-Furu’ 5/300, Al-Adzkar hal. 208)

Bila Makannya Bareng-Bareng atau Berjama’ah

Masalah selanjutnya adalah, bila makannya berjamaah, apakah diwajibkan atas setiap orang yang ada dalam kumpulan tersebut untuk membaca basmalah, atau cukup terwakilkan dengan satu orang saja?

Imam Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahwa bacaan salah seorang dari perkumpulan tersebut sudah cukup mewakili yang lain. Sebagian fuqoha’ menyamakan masalah ini dengan masalah menjawab salam dalam satu rombongan dan men-tasymith orang yang bersin. Yang mana dalam dua kasus tersebut cukup terwakilkan oleh satu orang. (Lihat: Al-Adzkar hal. 374)

Mereka juga beralasan: terdapat keterangan dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam; bahwa bila seorang tidak membaca basmalah sebelum makan, setan akan ikut campur dalam menyantap makanannya. Tujuan ini telah tercapai dengan bacaan salah seorang dalam majlis tersebut. Sehingga bacaan salah seorang dari mereka sudah mencukupi.

Namun Ibnul Qoyyim rahimahullah berpendapat lain. Beliau berpandangan bahwa bacaan basmalah tidak cukup terwakilkan oleh satu orang. Akan tetapi wajib atas setiap orang yang ada dalam majlis tersebut, untuk membaca bismillah.

Alasannya adalah hadis Aisyah radhiyallahu’anha. Disebutkan dalam hadis tersebut, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam makan bersama 6 orang sahabat beliau. Kemudian datang seorang Arab baduwi untuk menyertai mereka. Ia pun makan dua suapan dari hidangan tersebut, tanpa membaca bismillah terlebih dahulu. Melihat keadaan demikian, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda;

أَمَا إنَّهُ لَوْ سَمَّى لَكَفَاكُمْ

Jika saja dia makan dengan (menyebut) nama Allah, niscaya makanan ini akan mencukupi kalian semua .” (HR. Tarmizi. Beliau menilai hadis ini hasan sahih)

Sudah barang tentu, Rasulullah dan para sahabatnya telah membaca bismillah sebelum mereka makan. Kalau saja bacaan bismillah satu orang sudah cukup mewakili bacaan orang-orang yang hadir dalam majlis tersebut. Tentu Nabi tidak akan bersabda demikian. Karena bacaan basmalah Nabi dan para sahabatnya, sudah mencukupi untuk seorang Arab Baduwi tersebut.

Alasan lain yang menguatkan pendapat ini adalah, hadis Umar bin Abi Salamah di atas. Yang mana saat itu beliau makan bersama Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Karena tidak membaca basmalah, lalu Nabi pun mengingatkan,

يَا غُلاَمُ سَمِّ الله

Wahai Anakku.. bacalah “bismillah

Bila bacaan basmalah sudah tercukupkan dengan bacaan satu orang, tentu Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak akan mengingatkan Umar bin Abi Salamah radhiyallahu’anhu untuk membaca basmalah. Karena sudah tercukupkan bacaan basmalah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Meskipun ada ulama yang berpandangan lain. Kata mereka sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam tersebut dalam rangka pengajaran. Akan tetapi zahir hadis menguatkan keterangan ini.

Dari pemaparan argument masing-masing pendapat di atas, kita dapat mengetahui bahwa pendapat yang lebih rajih -insyaAllah- , adalah pendapat kedua. Yaitu pendapat yang menyatakan wajib atas setiap orang dalam majlis makan, untuk membaca basmalah.

Wallahu a’lam bis showab

Demikian yang bisa penulis sampaikan. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua, untuk istiqomah di atas keridoanNya.

Referensi:

Al-Fawaid Al-Majmu’ah fi Syarhi Fushulil Adab wa Makaarimil Akhlaq Al-Masyruu’ah. Karya: Syaikh Abdullah bin Sholih Al-Fauzan -hafidzohullah-. Terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama,  th 1434 H

Madinah An-Nabawiyyah,
2 Shofar 1436

Penulis: Ahmad Anshori

Artikel Muslim.Or.Id

Kedahsyatan Uban

uban_1-300x169

Ternyata dalam rambut yang mulai beruban, menyimpan kedahsyatan yang banyak tak disadari. Apa gerangan kedahsyatan tersebut? Mari kita simak pemaparan di bawah ini.

Pertama, uban mengingatkan seorang akan dekatnya ajal.

Dalam Al-Quran disebutkan,

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِير

Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. (QS. Fathir: 37)

Tahukah Anda, apakah yang dimaksud Sang Pemberi peringatan dalam ayat di atas?

Ibnu Katsir rahimahullah, menerangkan dalam kitab tafsir beliau, bahwa para ulama tafsir seperti Ibnu Abbas, Ikrimah, Qatadan, Ibnu ‘Uyainah dan yang lainnya, menjelaskan bahwa maksud Sang Pemberi peringatan dalam ayat di atas adalah uban. (Tafsir Ibnu Katsir 6/542)

Karena lumrahnya uban muncul di usia senja. Jadilah uban itu sebagai pengingat manusia bahwa ia berada dipenghujung kehidupan dunia, menanti tamu yang pasti datang dan tak disangka-sangka. Nabi Muhammad shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

أعمار أمتي ما بين الستين إلى لسبعين، وأقلهم من يجوز ذلك

Umur umatku di antara 60 ke 70 tahun, dan tidak banyak yang melebihi daripada itu. (HR. Imam Tirmizi)

Kedua, uban menjadikan seorang tak lagi rakus terhadap dunia.

Munculnya uban membuat seorang sadar, bahwa keberadaannya dunia ini tidaklah selamanya. Hanya sebentar bila dibandingkan kehidupan selanjutnya; yaitu alam akhirat. Yang satu hari di sana sama dengan lima puluh ribu tahun di dunia. Angan-angan kosongnya pun pupus. Ketamakannya terhadap kemilau harta mulai berkurang. Ia lebih disibukkan oleh hal-hal yang pasti. Hari-harinya menjadi lebih produktif untuk mempersiapkan bekal akhirat.

Sufyan Ats-Tsauri berkata,

الزهد في الدنيا قصر الأمل، ليس بأكل الغليظ ولا لبس العباء

“Zuhud terhadap dunia akan menupuskan Angan-angan kosong. Ia tak lagi berlebihan dalam hal makanan dan pakaian.”

Ketiga, uban akan menjadi cahaya di hari kiamat.

Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيبُ شَيْبَةً فِي الْإِسْلَامِ إِلَّا كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَة

Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang memiliki sehelai uban, melainkan uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat nanti.” (HR. Abu Daud 4204. Hadis ini dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib, 2091)

Dalam riwayat lain disebutkan,

أنه نور المؤمن

Sesungguhnya uban itu cahaya bagi orang-orang mukmin.”

Ka’b bin Murroh radhiallahu’anhu berkata,”Saya pernah mendengar Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي الإِسْلامِ كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang telah beruban dalam Islam, maka dia akan mendapatkan cahaya di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi no. 1634. Dishahihkan oleh AL-Albany dalam shohih Tirmizi)

Oleh karena itu, orang yang mencabut ubannya, ia akan kehilangan cahaya di hari kiamat.

Keempat, munculnya uban akan mendorong seorang untuk lebih giat beramal.

Uban menyadarkan orang-orang yang berakal untuk lebih semangat dalam kebajikan. Membuatnya semakin peka terhadap hak-hak Rabnya dan hak-hak sesama makhluk. Waktunya ia habiskan untuk kebaikan. ibadahnya menjadi lebih baik dan sempurna.

Ibnu Abid Dun-ya meriwayatkan dengan sanadnya. Bakr bin Abdillah Al-Muzani berkata,

إذا أردت أن تنفعك صلاتك فقل: لعلي لا أصلي بعدها

“Bila Anda ingin mendapat manfaat dari shalat Anda, maka katakanlah pada diri Anda,” Barangkali setelah ini aku tidak akan shalat lagi.”

Kelima, uban akan memancarkan sikap tabah dan wibawa.

Rupanya uban membuat seorang lebih tampak tabah dan berwibawa. Sikapnya tenang ketika berbicara, berbuat serta bermuamalah dengan orang lain. Oleh karena itu, islam memerintahkan kepada kita untuk menghormari orang-orang yang sudah tua.

Dari Abu Musa Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu, dia berkata,”Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ

“Sesunguhnya termasuk dari pengagungan kepada Alloh ialah menghormati orang muslim yang sudah beruban (orang tua). (HR. Abu Dawud dari hadits Abu Musa ra; hadits hasan)

Yaitu dengan memuliakannya bila ia berkumpul dengan kita dalam satu majelis, bersikap sopan dan santun kepadanya dan berusaha menjadi pendengar yang baik ketika dia berbicara, serta mengambil faidah dari lika-liku kehidupan yang telah ia lalui. (Lihat: ‘Aunul Ma’buud 13/192)

Dalam riwayat lain dijelaskan, dari Sa’id bin Musayyib, beliau berkata:

كام ابراهيم أول من ضيف الضيف وأول الناس كَانَ إِبْرَاهِيمُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلَ النَّاسِ ضَيَّفَ الضَّيْفَ وَأَوَّلَ النَّاسِ اخْتَتَنَ وَأَوَّلَ النَّاسِ قَصَّ الشَّارِبَ وَأَوَّلَ النَّاسِ رَأَى الشَّيْبَ فَقَالَ يَا رَبِّ مَا هَذَا فَقَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَقَارٌ يَا إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ يَا رَبِّ زِدْنِي وَقَارًا

“Ibrahim adalah orang pertama yang menjamu tamu, orang pertama yang berkhitan, orang pertama yang memotong kumis, dan orang pertama yang melihat uban lalu berkata: Apakah ini wahai Tuhanku? Maka Allah berfirman: kewibawaan wahai Ibrahim. Ibrahim berkata: Wahai Tuhanku, tambahkan aku kewibawaan itu.” (HR. Bukhori dalam Al-Adabul Mufrod 120, Imam Malik dalam Al-Muwatto’ 9/58)

Berangkat dari kedahsyatan-kedahsyatan di ataslah, kemudian jumhur ulama (mayoritas ulama) menyimpulkan, bahwa hukum mencabut uban adalah makruh. Bahkan ada pula ulama yang menghukumi haram. Seperti Al-Baghowi rahimahullah, beliau menyatakan,”Seandainya mau dikatakan haram karena adanya larangan yang tegas mengenai hal ini, maka ini tidak mustahil. Tidak ada bedanya antara mencabut uban pada rambut kepala maupun jenggot.” (red. Imam Nawawi rahimahullah menukil pernyataan ini dalam Al-Majmu’)

Ibnu Muflih juga menyatakan, “Ada kemungkinan yang menunjukkan bahwa mencabut uban itu hukumnya haram.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab: 1/292, Al-Furu’: 1/131) Namun dalam masalah ini pendapat yang lebih rajih -insyaAllah- adalah pendapat yang menyatakan makruh.

Wallahu a’lam bis showab.

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 7 Safar 1436

Penulis: Ahmad Anshori

Artikel: Muslim.Or.Id